Thank you.
Bapak.
Berapa, Pak?
Bukan.
Enggak.
Iya, anak soleh.
Iya, anak soleh.
Enggak.
[tawa]
Bu.
Oh, gitu.
Thank you.
Itu tadi.
Tidak.
Nggak.
Nggak ada.
Ibu.
Nggak ada.
Nggak ada duit.
Oh.
Tidak ada uang.
Oh, jadi.
Gitu.
Sabar.
Thank you.
Ini.
Tidak ada.
Thank you.
Nggak ada duit.
Nggak ada.
Saya.
Bu.
Terima kasih.
Iya.
Thank you.
Terima kasih.
Ini.
Ini.
Mungkin.
Nggak ada.
Nggak ada.
Terima kasih.
Oh.
Tidak.
Oh, gitu.
Nggak.
[tawa]
Oke.
Oh, gitu.
Ya.
Terima kasih.
Enggak.
Ibu.
Iya.
Iya.
Dalam hati. Bu, dalam hati.
Iya, Pak.
Iya, Pak.
Seleksi, Pak.
Iya.
Ada siapa lagi?
Oh, iya.
Kan, Pak.
Baik.
Thank you.
Tidak ada.
Thank you.
Iya.
Tidak ada.
Terima kasih.
Iya.
Terima kasih.
Iya.
Oh.
Alhamdulillah.
Wa'alaikumussalam.
Thank you.
Nggak.
Thank you.
Thank you.
Baik.
Thank you.
Iya.
Bu.
Thank you.
Nggak ada.
Thank you.
Nggak ada.
Thank you.
Nggak ada.
Oh.
Thank you.
Nggak ada.
Iya.
Thank you.
Nggak ada.
Thank you.
Iya.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Nggak apa-apa.
Terima kasih.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Nggak.
Iya.
Selamat siang.
Saya, Bapak.
dibanding saya, saya banyak kekurangan.
Sekarang kan pertanyaan saya wajar kan kalau nanya,
kalau di antara dua itu yang lebih kurang paling banyak kurangnya.
Assalamualaikum.
Teman-temannya bagus.
Kalau dibanding dengan punya Bu, lebih bagus punya mereka berdua.
Jadi saya belum bisa ngomong di sini.
[tawa]
Ya, saya lagi kurang. [tawa]
ya.
Ya.
Jadi kalau misalnya keduanya itu dapat A, dia dapat B,
Waduh.
nilainya. Tandanya kamu bisa menilai, nah kamu dapat A, mereka dapat B.
Nanti itu aja.
[tawa]
[tawa]
Baik, perasaan itu penting. Sahabat yang bisa membantumu menjadi lebih baik. Itu adalah teman.
Kalau begitu, internetnya nggak ya.
Abdurrahman.
Dibaca?
Belum, Pak.
Dari seluruh temannya itu belum dibaca.
Tapi saya ada meng-
Ada nama.
Ada nama teman-teman yang Bapak kirim.
Ya, tapi saya belum membuka dokumen, Pak.
Oh, baca namanya.
Iya, tapi saya belum membuka dokumen, Pak.
Iya.
Cukup, itu sama yang penting bagi saya. Kan setiap setiap pertemuan saya menilai ya, menilai kalian. Jangan dikira saya tidak menilai kalian setiap pertemuan.
Karena inilah setiap pertemuan siapa yang hadir, siapa yang perhatian, siapa yang enggak perhatian. Jadi kalau saya, Bu, tidak perhatian bagi dengan Anda, Anda jangan baper, Bu. Kan kadang-kadang Anda juga enggak perhatian dengan saya.
Kok baper? Kalau kita enggak diperhatiin.
[tawa]
Itu namanya enggak adil. Harus timbal balik. Jadi kalau kalian tidak pernah perhatian pada kami, jangan jangan minta perhatian lebihlah.
Ya.
Terimalah nasib apa adanya.
Seperti kita juga menerima nasib kami.
Begini ini.
Nasib hidup di zaman.
Perselingkuhan antara *Cebong* dan *Kampret*.
Gitu ya.
Baik.
Gimana gimana?
Baca kayaknya tuh gimana maksudnya? Bisa dijelaskan enggak itu?
saya baca, Pak. Punya Ananda,
Kalau yang di atas itu.
Kemudian ada yang bersayalah sedikit kurang. Tapi mohon maaf, Dewi.
Jadi punya Ikram Anwar Ramadani, Kak.
Oh, itu. Jadi punya Anwar yang dianggap bagus oleh Rian itu ternyata banyak kekurangannya.
[tawa]
Nggak apa-apa.
[tawa]
Kan dia, Bung, dia cuma baca lihat-lihat saja. Kan enggak tahu. Kalau Rian kan bacaannya sudah mendalam tuh yang. Kalau dia kan cuma melihat-lihat saja.
Oh, gitu.
[tawa, sangat keras]
[tawa]
PTW.
[tawa]
Yohana.
Yohana.
Hadir, Bapak.
Baca berapa?
Baca punya Nanda, Marsa, Afila, Ananda,
Iqram, terus yang satunya. Semuanya sih kalah, tapi saya ada.
Semuanya, Pak.
Ya.
Bacaannya seperti itu enggak? Lihat-lihat saja.
Saya ada juga, Pak, baca.
[tawa]
Jangan lihat-lihat saja.
Saya sudah dapat.
Ya, yang bagus itu punya Ananda dan Afila. Di Afila itu kajiannya sudah dia kembangkan seperti kata Ibu Dewi, perkembangan kajiannya itu, Kak.
Terus punya takut, Pak. Terus punya.
Nggak apa-apa. Kau sama aja nanti.
Saya yang paling pintar di sini ya.
Kamu tinggalkan. Oh, berarti saya ini pasti banyak kekurangan. Kan tinggal dia. Gua enggak mau.
Oh, pemenggalan judulnya.
Hanya itu.
Terus di bagian kajian pustaka tidak ada, kata Ibu Dewi.
Di apa?
Di kajian pustaka.
Kajian pustaka tidak ada.
Dia cuma menjelaskan.
Kebanyakan begitu, Pak, di semuanya.
Semuanya harus seperti itu. Termasuk punyanya Ananda dan.