Apa?
Apa yang terjadi?
[suara obrolan dan tawa]
Dia mau nangis.
[suara tangisan dan gumaman]
Lelah.
Aduh, ya Allah.
Aku penting-penting kali ya?
Penting me…
Penting memelihara.
Iya iya iya. Kalau kita berdoa, mudah-mudahan kan bisa cepat sembuh.
Berat sekali ya dengan dia. Pusing. Kalau kena pusing malah pusing banget.
Oh, dia berdoa. Dia berdoa.
Tadi malam dia berdoa.
[suara obrolan]
Coba.
ini sudah tidak, sudah tidak ada.
[suara obrolan]
Sekarang kita mengampat.
Hai! Hai! Hai! Hai!
Frank!
Frank! Frank! [unclear]
[suara obrolan]
Jangan dihindari.
[suara obrolan]
Jangan dihindari.
[suara obrolan]
Tidak.
[suara nyanyian/jingle]
[suara nyanyian/jingle]
Ya Allah.
[suara obrolan]
[suara obrolan]
Kenapa lagi.
[suara obrolan]
[suara obrolan]
Siap.
[suara obrolan]
[suara obrolan]
[suara obrolan]
Gitu.
Wirid, wirid mahramnya.
Pernah berdoa ya, pernah berdoa untuk meminta.
[suara obrolan]
Jangan ini baru semua [unclear] video.
Biasanya kalau dia kalau dia sama anak-anaknya dia tidak mau. Tapi kalau sama guru praktiknya dia mau.
[suara obrolan]
Gimana videonya?
[unclear]nya.
Iya, gimana?
Belum.
Ini masih dikosongin.
[suara nyanyian/jingle]
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Masih di jalan, Bapak?
Jalan.
Ke mana?
Ke kampus.
Hah?
Ke kampus.
Oh, gitu.
Kalau ke Kalau ke masuk murang, ulur sungai.
Karena kalau daring itu kecuali tidak bisa luring, ya. Kan bisa. Kalau daring saya mengajar seperti mengajar di kuburan.
Ada yang berbaring. Ada yang meninggalkan kami, ya.
Kameranya malah dihidupkannya lupa. Masa dipanggil Indonesia.
Kalau ditanya orang kan, "Lu gimana?" "Enam."
Godaan setan satu.
Dia akan nonton bola.
Di TV setan. Ya.
Sudah semalaman nonton bola, tidak kuat subuh lagi.
Tidak sadar sebagai mahasiswa tugasnya.
Nah, ini karena luring, kita putar, ya.
Ini lelaki peserta punya amal.
Ada.
Mana?
Selesai.
Belum hadir ini yang dibaca baru Ibu Dita di rumah sakit, ya, Sultan Agung. Yang mengambilkan jus jambu ke rumah saya.
Saya beli empat botol.
Padahal sesungguhnya tidak ada obat demam berdarah.
Yang ada itu menguatkan darah trombosit atau HB-nya. Itu yang itu yang melawan virus demam berdarah.
Ya.
Jadi tidak bisa belum ada obatnya langsung.
Bagus dan paling enak. Ya.
Obat penyakit.
Padahal ini keluarga Ibu Dita itu termasuk yang ibaratnya disiplin, ya. Tapi ya mungkin kenapa?
Membiarkan apa? Tempat yang menampung air. Ya.
Air hujan ditampung, tidak ditutup, itu satu malam saja nyamuk sudah bertelur. Ya.
Nah, itu bukan nyamuk tidak sengaja.
Banyak tuh kamu apa? Ya?
Jelas jelas air mineral. Kita menampung air sedikit saja tuh jadi nyamuk sudah. Ya?
Air yang jernih.
Nah. Jadi air hujan.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
[suara chanting/nyanyian]
Subhanallah walhamdulillah.
Lailahaillallah wallahu akbar.
Bila di waktu yang tercinta.
Dia di waktu Al-Asr.
[suara chanting/nyanyian]
[suara chanting/nyanyian]
[suara chanting/nyanyian]
[suara obrolan dan tawa]
Pencahayaan, ya.
Rambut. Begitu orang bangun tidur.
[suara obrolan dan tawa]
Di mana minta bantuanmu ke mana, nilai kami tetap akan tampil di dunia ini. Termasuk akun Google.
Dilihat.
Ya.
Itu minimal artinya sekali. Ya.
Ulangin 20.
Ya.
Baik kita boleh, salah dengan SD ini. Ya.
[suara obrolan]
Mahasiswa. Ya.
Mahasiswa itu marah itu sudah sifat Tuhan, ya.
Janganlah Harani.
[suara obrolan]
[suara obrolan]
Harani.
Melukiskan, ya.
Ada desain-desain kemaharani.
Saya pikir untuk orang Banjar.
Bagi [unclear] beliau Maharani. Maksudnya Anwar sudah bercium, ya.
Ini kepada orang Banjar.
Sejarah orang Banjar kan diganti Maharani.
Sudah datang ya Maharani.
[suara obrolan]
Kan?
Orang sudah paham orang Banjar ini Maharani.
Diberi Maharani.
[suara obrolan]
Baiknya ulang.
Orang Banjar hari ini ulun Sungai, kan? Malam ulun Sungai, ulun itu mirip ulun Sungai.
[suara obrolan]
[suara obrolan]
Kalau tidak kalau tidak pendatang.
Kalau tidak pendatang itu pun pendatang.
Iya. Saya pendatang.
Orang asli di situ pendatang.
Nah, kayaknya sampai mati pun kayaknya.
Ha.
Ya.
Itu.
Kalau jarang digunakan, pasti ke bahasa daerah.
Misalnya apa? Maharani.
[suara obrolan]
Kamu?
Dari [unclear] juga, Bapak.
Asli Maharani, lah?
Tidak tahu.
Kamu?
[unclear]
Apa?
[unclear]
Kalimantan.
Bahasa apa biasa sehari-hari di daerah kamu?
Dayak, mayang.
Mayang, ya.
Di bahasa Maharani?
Tidak ada, Pak.
Tidak ada. Maharani Dayak, ada kepala burung [unclear].
Walo guru.
[suara obrolan]
Burung. Banyak burung.
[suara obrolan]
Kenapa?
Sampai mati itu kenapa?
Mengapa, Pak?
Maju.
Maju.
Kalau dia itu dicuri jin.
Dicuri, Pak.
[suara obrolan]
Tidak bisa, Pak.
Maju!
Kan kalau sudah muka kosong.
Tidak pernah maju kamu kalau begitu.
Dia memborosi, memboroskan. Ya.
Yang dibawa ini Maharani.
Makan bacang.
Kalau melihat kan.
Kalau makan bacang ya tidak ada. Kita makan ini.
[suara obrolan]
Dari mana aslinya?
Orang Banjar Masin.
Banjarmasin, ya.
Kamu?
Orang Banjar Baru.
Banjar Baru. Apa asli Maharani di sana?
Tidak tahu.
Orang mana?
[unclear] Dayak.
Dayak.
Asli kamu?
[unclear]
Orang mana?
Orang Banjar Masin.
Banjar. Apa Maharani di sana?
Orang Banjar.
Orang Banjar, ya, sama Banjar. Sudah penuh ini.
Pendatang.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[suara obrolan]
Tidak di.
Ya.
Tidak di fairin.
[suara obrolan]
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Ini kompak bangun kesiangan.
Hah?
Iya, Bapak.
Itu apa kebijakannya?
Kesiangan, di warung banyak.
Hah?
Di mana apa?
TV.
Tuh.
Mampus, lama berenang.
[suara obrolan]
Kan banyak di warung. Kenapa kamu terlambat?
Itu kan disengaja.
Apa tidak ingat kuliah ini?
[unclear] balik gara sendiri.
Ini kenapa ini?
Nah.
Lobnya apa? Lobnya?
Bolong.
Bolong.
[suara obrolan]
Tidak pakai tangan, ya?
Iya, Bapak.
[suara obrolan dan tawa]
Gitu.
Bagus pakai makan sendok, bagus pakai makan tangan langsung.
Pakai tangan, Bapak.
Mengapa?
Karena menurut saya.
Jangan menurut. Menurut itu pasti salah.
Sepengetahuan saya.
Sendok itu dari batu, ya.
Dari besi, Bapak.
Mengapa?
Dari besi, Bapak.
Dia ada dari besi.
[suara obrolan]
Apa?
Ada di Banjarmasin.
[suara obrolan]
Nah.
[suara obrolan]
Dulu.
Dulu.